PENERAPAN MANAJEMEN FUNGSIONAL DALAM ORGANISASI BISNIS

 PENERAPAN MANAJEMEN FUNGSIONAL DALAM ORGANISASI BISNIS


Gambar 1 - Proyek dan Manajemen Fungsinal


A.   Pengertian Manajemen Fungsional

Pengertian fungsional adalah sesuatu hal yang dirancang untuk mampu melakukan satu atau lebih kegiatan yang praktikal, lebih mengutamakan fungsi dan kebergunaan ketimbang hal-hal yang berbau dekorasi atraktif (tidak ada fitur yang tidak perlu). Sedangkan manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan suatu organisasi dengan cara bekerja dalam team.

Manajemen fungsional adalah sebuah bentuk supaya kontribusi pada dalam suatu departemen dapat bertahan pada tingkatan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Pengertian lainnya adalah, manajemen fungsional merupakan sebuah bentuk supaya kontribusi pada dalam suatu departemen dapat bertahan pada tingkatan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Dari pendekatan fungsional, maka kita dapat menyederhanakan hal tersebut menjadi beberapa kategori. Berikut ini kategorinya:

1.    Perencanaan (Planning)

2.    Pengorganisasian (Organizing)

3.    Memimpin (Leading)

Selain itu, dalam manajemen fungsional kita juga bisa mengetahui Jenis sistem informasi yang mendukung, seperti:

1.    Sistem Pemasaran

2.    Pemasaran Interaktif

3.    Pemasaran yang Bersasaran

4.    Otomatisasi Tenaga Penjualan

5.    Sistem Produksi

6.    Sistem Sumber Daya Manusia

7.    Sistem Akuntansi dan Keuangan

Kontribusi manajemen fungsional dalam penerapan strategi perusahaan yang terdiri dari: (1) manajemen produksi; (2) manajemen pemasaran; (3) manajemen keuangan; (4) penelitian dan pengembangan; dan (5) manajemen sumber daya manusia terhadap pencapaian kinerja perusahaan berdasarkan pendekatan Balanced Scorecard baik secara simultan dan parsial.

Manajemen fungsional parsial terdiri dari: (1) manajemen produksi; (2) manajemen pemasaran; (3) manajemen keuangan; (4) penelitian dan pengembangan; dan (5) manajemen sumber daya manusia dalam implementasi strategi perusahaan memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap pencapaian kinerja perusahaan.

 

B.   Aktivitas Manajemen Fungsional

Manajemen fungsional dilihat dari pendekatan manajemen klasik terdiri dari dan merupakan fungsi-fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengimplementasian, pengendalian, dan pengawasan.

 

1.    Perencanaan

Perencanaan secara garis besar diartikan sebagai proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkann rencana aktivitas kerja organisasi. Definisi perencanaan adalah Pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana dan oleh siapa.

Dalam manajemen perencanaan adalah sebuah patokan untuk mempermudah menejer agar tercapainya sebuah tujuan, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan Untuk itu, perencanaan yang baik akan mempertimbangkan hal-hal sbb:

a.  Kondisi mendatang;

b.  Kegiatan yang akan dilaksanakan; dan

c.  Periode sekarang rencana dibuat.

Sedangkan kebutuhan perencanaan berada pada semua tingkatan organisasi. Manajemen puncak mengarah pada perencanaan jangka panjang dan strategi-strategi organisasi, dan manajemen bawah mengarah pada perencanaan jangka pendek dan pada kelompok kerja/unit.

Adapun, perencanaan merupakan suatu proses yang tidak berakhir dan akan dikembangkan perencanaan kembali, jadi perencanaan bersifat “fleksibilitas, aktif, dinamis, berkesinambungan, dan kreatif“ disesuaikan dengan tujuan organisasi dan perkembangan bisnis. Untuk itu, aspek penting dalam perencanaan, adalah:

a.  Pembuatan keputusan;

b.  Proses pengembangan; dan

c.  Penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk memecahkan masalah.

 

a.    Tujuan Perencanaan

Tujuan dari perencanaan menurut pendapat Stephen Robbins dan Mary Coulter, adalah sbb: 

1)  Memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial. Dengan rencana, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa rencana, departemen dan individual mungkin akan bekerja sendiri-sendiri secara serampangan, sehingga kerja organisasi kurang efesien.

2)      Mengurangi ketidakpastian. Ketika seorang manajer membuat rencana, ia dipaksa untuk melihat jauh ke depan, meramalkan perubahan, memperkirakan efek dari perubahan tersebut, dan menyusun rencana untuk menghadapinya.

3)   Meminimalisir pemborosan. Dengan kerja yang terarah dan terencana, karyawan dapat bekerja lebih efesien dan mengurangi pemborosan. Selain itu, dengan rencana, seorang manajer juga dapat mengidentifikasi dan menghapus hal-hal yang dapat menimbulkan inefesiensi dalam perusahaan.

4)   Menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya, yaitu proses pengontrolan dan pengevalusasian. Proses pengevaluasian atau evaluating adalah proses membandingkan rencana dengan kenyataan yang ada. Tanpa adanya rencana, manajer tidak akan dapat menilai kinerja perusahaan.


b.    Elemen Perencanaan,

Elemen perencanaan terdiri dari sasaran dan rencana, antara lain:

1)    Sasaran

Rencana adalah hal yang ingin dicapai oleh individu, grup, atau seluruh organisasi. Sasaran sering pula disebut tujuan, sasaran memandu manajemen membuat keputusan dan membuat kriteria untuk mengukur suatu pekerjaan.

Sasaran dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu:

a)    Sasaran yang dinyatakan (stated goals). Stated goals adalah sasaran yang dinyatakan organisasi kepada masyarakat luas. Sasaran seperti ini dapat dilihat di piagam perusahaan, laporan tahunan, pengumuman humas, atau pernyataan publik yang dibuat oleh manajemen. Seringkali stated goals ini bertentangan dengan kenyataan yang ada dan dibuat hanya untuk memenuhi tuntutan stakeholder perusahaan.

b)    Sasaran riil adalah sasaran yang benar-benar dinginkan oleh perusahaan. Sasaran riil hanya dapat diketahui dari tindakan-tindakan organisasi beserta anggotanya.

Adapun pendekatan utama yang dapat digunakan organisasi untuk mencapai sasarannya, adalah sbb:

a)    Pendekatan tradisional.

Pada pendekatan ini, manajer puncak memberikan sasaran-sasaran umum, yang kemudian diturunkan oleh bawahannya menjadi sub-tujuan (subgoals) yang lebih terperinci. Bawahannya  kemudian menurunkannya lagi kepada anak buahnya, dan terus hingga mencapai tingkat paling bawah. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa manajer puncak adalah orang yang tahu segalanya karena mereka telah melihat gambaran besar perusahaan. Kesulitan utama terjadi pada proses penerjemahan sasaran atasan oleh bawahan. sehingga bawahan kesulitan menerjemahkan sasaran yang sudah ditetapkan dan akhirnya salah mengintepretasi maksud sasaran. 

b)    Pendekatan management by objective (MBO).

Pada pendekatan ini, sasaran dan tujuan organisasi tidak ditentukan oleh manajer puncak saja, tetapi juga oleh karyawan. Manajer dan karyawan bersama-sama membuat sasaran-sasaran yang ingin mereka capai. Dengan begini, karyawan akan merasa dihargai sehingga produktivitas mereka akan meningkat. Tapi terdapat beberapa kelemahan dalam pendekatan MBO. Pertama, negosiasi dan pembuatan keputusan dalam pendekatan MBO membutuhkan banyak waktu, sehingga kurang cocok bila diterapkan pada lingkungan bisnis yang sangat dinamis. Kedua, adanya kecenderungan karyawan untuk bekerja memenuhi sasarannya tanpa memedulikan rekan sekerjanya, sehingga kerjasama tim berkurang.

 

c.    Rencana

Rencana atau plan adalah dokumen yang digunakan sebagai skema untuk mencapai tujuan. Rencana biasanya mencakup alokasi sumber daya, jadwal, dan tindakan-tindakan penting lainnya. Rencana dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi penggunaannya, sebagai berikut:

1) Berdasarkan cakupan, rencana dapat dibagi menjadi rencana strategis dan rencana operasional.

a) Rencana strategis adalah rencana umum yang berlaku diseluruh lapisan organisasi

b) Rencana operasional adalah rencana yang mengatur kegiatan sehari-hari anggota organisasi.

 

2) Berdasarkan jangka waktu, rencana dapat dibagi menjadi rencana jangka panjang dan rencana jangka pendek.

a) Rencana jangka panjang umumnya didefinisikan sebagai rencana dengan jangka waktu tiga tahun,

b) Rencana jangka pendek adalah rencana yang memiliki jangka waktu satu tahun.

c) Sementara rencana yang berada di antara keduanya dikatakan memiliki intermediate time frame.

 

3)   Menurut kekhususan, rencana dibagi menjadi rencana direksional dan rencana spesifik.

a) Rencana direksional adalah rencana yang hanya memberikan guidelines secara umum, tidak mendetail. Rencana seperti ini sangat fleksibel, namun tingkat ambiguitasnya tinggi.

b)   Rencana spesifik adalah rencana yang secara detail menentukan cara-cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan.

 

4)      Rencana berdasarkan frekuensi penggunan, yaitu single use atau standing.

a)   Single-use plans adalah rencana yang didesain untuk dilaksanakan satu kali saja.

b)  Standing plans adalah rencana yang berjalan selama perusahaan tersebut berdiri, yang termasuk di dalamnya adalah prosedur, peraturan, kebijakan, dan lain-lain.

 

d.  Jenis Rencana

            Organisasi menggunakan dua rencana utama yaitu: (1) Rencana strategic; (2) Rencana operasional. Rencana operasional tumbuh dari rencana strategic dan pernyataan misi. Terdapat empat pokok perbedaan antara rencana strategic dan operasional, yaitu:

1)    Horison waktu;

2)    Ruang lingkup;

3)    Kerumitan dan dampak; dan

4)    Ketidaktergantunga

                                                                                                            

 Gambar 2 - Hierarki Rencana

 

e.  Tahap Dasar Perencanaan

Tahap dasar perencanaan terdiri dari empat tahap, yaitu :

Tahap 1 : Menetapkan keadaan saat ini

Tahap 2 : Merumuskan keadaan saat ini

Tahap 3 : Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan

Tahap 4 : Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian

    Tujuan

Gambar 3 – Tahap Dasar Perencanaan


f.     Hubungan Perencanaan dengan Fungsi Manajemen

Perencanaan adalah fungsi yang paling dan meresap ke seluruh fungsi-fungsi Manajemen; Saling berhubung, Saling tergantung dan berinteraksi. Bagaimana perencanaan dihubungkan dengan fungsi manajemen?


Gambar 4 - Hubungan Perencanaan dengan Manejemen

 

Contoh hubungan:

a.       Proses pengaturan kerja bersama sumber daya organisasi

b.      Penyusunan personalia

c.       Penerapan dan menentukan kombinasi dari faktor, kekuatan, sumber daya, dan hubungan mengarahkan dan memotivasi karyawan

d.      Pengawasan sebagai kreteria penilaian pelaksanaan kerja terhadap rencana

 

Menurut Donald C. Mosley dan Paul H. Pietri: The Art of Working With and Through People, 1975. Perencanaan dan pengawasan saling berhubungan erat. Dalam Manajemen disebut “Kembar Siam“.

Tujuan setiap rencana adalah membantu sumber daya dalam kontribusinya secara positif terhadap pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Para manajer harus dapat menentukan hubungan-hubungan organisasi, kualifikasi personalia, bagaimana bawahan diarahkan dan cara pengawasan yang diterapkan.

 

2.    Pengorganisasian

Definisi organisasi dalam arti umum merupakan sekumpulan atau sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan untuk bekerja sama dengan pembagian atau alokasi tugas dan tanggung jawab tertentu dalam system koordinasi, kooperatif, dorongan-dorongan, dan pengaturan guna memudahkan pencapaian beberapa tujuan yang telah ditetapkan.

Definisi pengorganisasian adalah langkah untuk merancang struktur formal, menetapkan, menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok, wewenang dan pendelegasian wewenang oleh pemimpin kepada staf dalam rangka mencapai tujuan organisasi dalam efisiesi.

Organisasi sebagai “proses pengorganisasian”, yaitu proses penyusunan struktur formal, mengelompokan, mengatur dan menbagi tugas-tugas pekerjaan di antara para anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien dan sesuai dengan sumber daya dan lingkungan organisasi.

Istilah pengorganisasian dapat digunakan untuk hal-hal sbb:

1)    Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumber daya organisasi.

2) Bagaimana organisasi mengelompokan kegiatan-kegiatan organisasi dan penugasan seorang manajer.

3)    Hubungan-hubungan antara fungsi, jabatan, tuagas dan para karyawan.

4) Cara para manajer membagi lebih lanjut tugas yang harus dilaksanakan dalam departemennya dan delegasi wewenang untuk mengerjakan tugas tersebut.

 

a.    Proses Pengorganisasian

Menurut Ernest Dale “Organization“ ada tiga langkah pengorganisasian, yaitu:

1)  Perincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan 

    organisasi

2)   Pembagian beban pekerjaan total secara logika dapat dilaksanakan oleh satu orang.

3)   Pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinakan pekerjaan

             para anggota organisasi menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.

 

Aspek-aspek organisasi dan proses pengorganisasian:

1)    Pembagian kerja

2)    Departementalisasi

3)    Bagan organisasi formal

4)    Rantai perintah dan kesatuan perintah

5)    Tingkat hirarki manajemen

6)    Saluran komunikasi

7)    Penggunaan komite

8)    Rentang Manajemen dan kelompok informal yang tak dapat dihindarkan

 

b.    Tujuan Pengorganisasian

Tujuan pengorganisasian adalah tugas - tugas yang diberikan kepada anggota organisasi dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan diharapkan dengan tugas setiap anggota organisasi dapat meningkatkan keterampilannya secara khusus dalam menangani tugas-tugas yang dibebankan. Tujuannya adalah :

1)      Membantu koordinasi

2)      Memperlancar pengawasan

3)      Maksinalisasi manfaat

4)      Penghematan biaya

5)      Meningkatkan kerukunan

 

c.    Struktur Organisasi

Struktur organisasi menggambarkan “mekanisme-mekanisme formal organisasi dikelola. Kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan di antara fungsi, bagian, posisi, dan orang-orang yang menunjukan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi.

Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit kerja) dan hubungan antara tiap bagian secara posisi yang ada pada perusahan dalam menjalin kegiatan oprasional untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi menunjukan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan. Pekerjaan dibagi, dikelompokan dan dikordinasikan (integrasi) secara formal

 

d.    Perancangan Struktur Organisasi

Faktor-faktor penentu perancangan struktur organisasi adalah sbb:

1)      Strategi organisasi

2)      Teknologi yang digunakan

3)      Anggota dan orang-orang yang terlibat

4)      Ukuran organisasi

 

Unsur-unsur struktur organisasi:

1)      Spesialisasi kerja

2)      Standarisasi

3)      Koordinasi

4)      Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan

5)      Besaran/ukuran satuan kerja

 

e.    Bagan Organisasi

Bagan organisasi membentuk struktur organisasi, bagan organisasi adalah bagan yang memperlihatkan adanya saling keterkaitan berbagai posisi pada suatu organisasi dalam pengertian wewenang dan tanggung jawabnya, pada dasarnya terdapat tiga pola organisasi, yaitu organisasi lini, organisasi fungsional, dan organisasi lini dan staff.

Bagan organisasi menggambarkan lima aspek utama struktur organisasi, sbb:

1)      Pembagian kerja;

2)      Manajer dan bawahan (rantai perintah);

3)      Tipe pekerjaan yang dilaksanakan;

4)      Pengelompokan segmen-segmen pekerjaan; dan

5)      Tingkatan manajemen.

 

Keuntungan bagan organisasi:

1)         Memberikan gambaran bagaimana organisasi disusun

2)         Manajer, bawahan dan tanggung jawab digambarkan dengan jelas

3)         Untuk menangani masalah khusus

4)         Menunjukan posisi seseorang dapat ditemukan.

5)         Dapat menunjukan potensi kelemahan organisasi

 

Kelemahan bagan organisasi:

1)         Masih banyak hal yang tidak jelas dan tidak ditunjukan.

2)         Tidak menunjukan berapa besar tingkat wewenang dan tanggung jawab.

3)         Tidak menunjukan hubungan informal dan saluran komunikasi


f.     Bentuk bagan organisasi

Menurut Henry G. Hodges, Management principles, prantice and problem, terdapat 4 (empat) bentuk, yaitu:

1)         Bentuk pyramid

2)         Bentuk vertical

3)         Bentuk horizoltal

4)         Bentuk lingkaran

 

Gambar 5 - Bagan Organisasi Bentuk Piramida

 

 

Gambar 6 - Bagan Organisasi Vertikal

 


Gambar 7 - Bagan Organisasi Horizontal

 

 

Gambar 8 - Bagan Organisasi Melingkar

 

3.    Pelaksanaan - Pengarahan

Aktivitas fungsi manajemen selanjutnya adalah actuating atau pelaksanaan atau pengarahan, merupakan aktivitas terpenting dalam konsep manajemen dan mengarah kepada hubungan manusia di dalam organisasi. Sedangkan, Pengarahan di definisiakan sebagai proses menuntun kegiatan-kegiatan para anggota organisasi ke arah yang tepat. Arah yang dapat menghantarkan pada tercapainya tujuan dari system manajemen.

Kemudian, menurut pendapat, George R. Terry, mengemukakan bahwa actuating adalah usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.

Dengan demikian, pelaksanaan (actuating) merupakan suatu upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya

 

a.      Komponen Proses Pengarahan

Pada pengarahan terdapat konsep mempengaruhi orang lain, atau disebut dengan istilah influencing , kemampuan ini akan menentukan keberhasilan seorang manajer. Dalam proses pengarahan perlu melibatkan empat komponen, yaitu:

1)    Memimpin;

2)    Memotivasi;

3)    Mempertimbangkan kelompok – kelompok; dan

4)    Berkomunikasi.

 

Gambar 9 - Komponen dalam Proses Pengarahan

 

b.      Prinsip Pengarahan

Pengarahan merupakan aspek hubungan antar manusiawi dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaga kerja efektif serta efesien untuk mencapai tujuan.

Dalam manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut manusia, menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri. Pengarahan yang dilakukan oleh pimpinan harus berpegang pada beberapa prinsip, yaitu :

 

1)    Prinsip mengarah pada tujuan

Bahwa makin efektifnya proses pengarahan, akan semakin besar sumbangan bawahan terhadap usaha mencapai tujuan. Dalam melaksanakan fungsi pengarahan perlu mendapatkan dukungan/bantuan dari faktor-faktor lain seperti perencanaan, struktur organisasi, tenaga kerja yang cukup, pengawasan yang efektif dan kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan serta kemampuan bawahan.


Gambar 10 - Proses Pengarahan

 

2)    Prinsip keharmonisan dengan tujuan

Orang-orang bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang kemungkinan tidak sama dengan tujuan perusahaan. Hal ini dipengaruhi oleh motivasi masing-masing individu. Motivasi yang baik akan mendorong orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara yang wajar. Sedang kebutuhan akan terpenuhi apabila mereka dapat bekerja dengan baik dan pada saat itulah mereka menyumbangkan kemampuannya untuk mencapai tujuan organisasi.

 

3)    Prinsip kesatuan komando

Prinsip kesatuan komando untuk menyatukan arah tujuan dan tangggung jawab para bawahan. Jika para bawahan hanya memiliki satu jalur didalam melaporkan segala kegiatannya. Dan hanya ditujukan kepada satu pimpinan saja, maka pertentangan didalam pemberian instruksi dapat dikurangi, serta semakin besar tanggung jawab mereka untuk memperoleh hasil maksimal.


c.       Elemen Pengarahan  

Elemen-elemen pengarahan yang dapat digunakan dalam manajemen untuk mengarahkan karyawan agar sesuai dengan tujuan perusahaan dan pencapaian tujuan perusahaan efektif dan efisien. Elemen-elemen pengarahan sebagai berikut:

1)    Coordinating

Menurut pendapat George R. Terry, merupakan fungsi yang harus di lakukan oleh seorang manajer dapat melakukan komunikasi dari berbagai kepentingan dan perbedaan kepentingan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

2)    Motivating

George R. Terry memberikan pandangan bahwa motivasi merupakan salah satu elemen penting dalam manajemen perusahaan, dengan memberikan fasilitas yang baik dan gaji yang cukup maka kinerja para karyawan dalam perusahaan akan optimal dan efektif.

3)    Communication

Menurut pendapat George R. Terry, komunikasi antara para pimpinan dan karyawan sangat di perlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan menjalin komunikasi yang baik maka akan menimbulakan suasana kerja yang kondusif di perusahaan dan menumbuhkan sikap teamwork yang baik dalam berbagai kegiatan perusahaan.

4)    Commanding

Pemberian perintah harus di perhitungkan dan di pertimbangkan agar memberikan efek atau pengaruh positif di dalam perusahaan. Menurut Prajudi Atmosudirdjo, Dengan pengarahan yang baik dari para atasan dengan visi dan misi yang jelas dari suatu manajer perusahaan dapat menimbulkan efek yang positif untuk perusahaan, teamwork yang baik dan dapat memunculkan decision maker yang bagus. Decision maker dan teamwork dalam suatu perusahaan adalah kunci kesuksesan dalam mencapai tujuan perusahaan seefektif dan seefisien mungkin.

Menurut pendapat George R. Terry, bahwa fungsi actuating/pengarahan tercakup dalam lima sub fungsi manajemen yaitu: Communicating, Leading, Directing, Motivating dan Facilitating.

 

d.      Tahapan Pengarahan

Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang penting dan langsung berhubungan dengan karyawan di dalam organisasi. Dalam pengarahan seorang atasa dapat memberikan pengarahan dalam tiga tahap, yaitu:

a)   Memberikan motivasi, inspirasi, semangat atau dorongan kepada setiap karyawan untuk bekerja sesuai harapan untuk mencapai tujuan perusahaan. Menurut Muninjaya, hal ini disebut dengan motivasi, motivasi merupakan proses seorang manajer merangsang bawahan untuk bekerja dalam rangka upaya mencapai sasaran organisasi sebagai alat untuk memuaskan keinginan pribadi.

b)   Menurut Nuraida; memberikan kesempatan pengembangan diri melalui pemberian Pendidikan dan pelatihan.

c)   Pengarahan yang dilakukan dengan memberikanpetunjuk yang benar, jelas dan tegas. Menurut Muninjaya bahwa saran atau instruksi kepada sta dalam pelaksanaan tugas har diberikan dengan jelas agar setiap tugas dapat dilaksanakan dengan baik terarah kepada tujuan yang sudah ditetapkan.

d)   Menurut Herujito; bahwa berkomunikasi secara efektif.


4.    Pengendalian

Pengendalian merupakan fungsi manajemen yang menentukan proses manajemen dan keterampilan yang harus di miliki oleh seorang manajer. Pengendalian merupakan proses pemantauan aktivitas untuk menjamin bahwa standar dapat dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan dan melakukan langkah koreksi terhadap penyimpangan yang berarti.

Adapun yang menjadi ukuran pengendalian adalah standar. Standar merupakan pedoman atau tolak ukur atau perbandingan yang ditetapkan untuk dasar pengukuran atau suatu pernyataan mengenai hasil yang diharapkan. Fungsi dari fungsi pengendalian adalah sbb:

a)    Untuk mencegah terjadinya penyimpangan atau kesalahan dengan melakukan pengendalian secara rutin, ketegasan dan pengawasan dan dengan pemberian sanksi terhadap terjadinya penyimpangan.

b)    Memperbaikan setiap penyimpangan yang terjadi, dengan pengendalian dapat diusahakan cara-cara perbaikan, terutama terdapa penyimpangan yang sudah terjadi.

c)    Dibuat organisasi dinamis, dengan pengendalian diharapkan dapat mencegah dan mengurangi tingkat penyimpangan yang terjadi dan dapat mencegah terjadi penyimpangan.

d)    Mempertebal rasa tanggung jawab, harapannaya adalah setiap karyawan memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan, dengan adanya system pengendalian.

 

a.  Jenis Pengendalian

Pengendalian dalam manajemen mengikuti pola pada proses system, yaitu input, proses dan output. Jenis pengendalian yang memfokuskan pada proses sistem, adalah sbb:

1)    Metode pengendalian umpan maju

2) Metode ini disebut dengan istilah pengedalian untuk mengantisipasi masalah sebelum terjadi. Metode ini dengan membuat berbagai standar kualitas dan kuantitas terdapat berbagai input – masukan. Manajer harus sudah membuat standar mutu untuk menghindari penyimpangan.

3)    Metode pengendalian berjalan atau bersamaan

4)   Dikenal dengan istilah mengelola masalah pada saat terjadi, metode ini memerlukan standr perilaku, kegiatan dan pelaksanaan atau prosedur dari setiap aktivitas. Dibutuhkan hasil observasi dari first line manager. Tindakan korektif – perbaikan ditujukan kepada perbaikan kualitas dan kuantitas sumber daya dan operasi perusahaan.

5)    Metode pengendalian umpan balik.

Metode ini disebut juga mengelola masalah setelah terjadi, dengan menentukan standar kualitas dan kuantitas terhadap setiap output – keluaran. Tindakan korektif di lakukan setelah output dikembalikan oleh konsumen.

 

b.    Proses Pengendalian

Proses pengendalian merupakan pengukuran kemajuan kegiatan berdasarkan perencanaan yang telah di tetapkan dalam rangka tujuan organisasi dan dievaluasi dan mencari alternatif pemecahan untuk menyelesaikan masalah. Proses pengendalian terdiri dari empat langkah, yaitu:

1)    Penentapan standar kinerja, target sebagai dasar untuk evaluasi.

2)    Pengukuran prestasi atau kinerja nyata.

3)    Membandingak kinerja nyata dengan standar kinerja yang ditetapkan.

4)    Mengevaluasi hasil dan melakukan tindakan koreksi jika standar tidak tercapai.

 

c.    Sistem Pengendalian yang Efektif

Sistem pengendalian yang dapat dikatakan diandalkan dan efektif mempunyai karakteristik tertentu yang sifatnya relative dan memilik ciri-ciri sebagai berikut:

1)    Akurat; Informasi tentang hasil prestasi kerja harus akurat. Mengevaluasi ketepatan informasi yang diterima merupakam salah satu tugas pengendalian paling penting yang dihadapi manajer.

2)  Tepat waktu; Informasi hendaknya segera dimanfaatkan untuk pengambilan tindakan yang tepat terhadap suatu masalah agar menghasilkan perbaikan

3)  Objektif dan komprehensif; Informasi yang akan digunakan untuk pengawasan harus dapat dipahami dan dianggap objektif. Sistem informasi yang sulit dipahami akan mengakibatkan kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

4)    Dipusatkan pada titik pengendalian strategis; Pengendalian harus dipusatkan pada area di mana kemungkinan terjadinya penyimpangan relatif banyak, juga pada area di mana tindakan koreksi dilaksanakan dalam waktu serta tempat yang tepat hingga efektif.

5)    Ekonomis; Biaya pengendalian hendaknya lebih sedikit atau paling banyak sama dengan keuntungan yang diperoleh dalam sistem itu. Caranya ialah bahwa pengeluaran hendaknya minimal dengan hasil yang hendaknya optimal.

6)   Realistis dari organisasi; Sistem pengendalian harus dapat di gabungkan dengan realitas organisasi.

7)   Fleksibel; Secara umum semua organisasi berada pada lingkungan yang tidak stabil sehingga perubahan-perubahan yang terjadi perlu diantisipasi. Bentuk antisipasi ini perlu didampingi dengan pengawasan agar jalannya organisasi tetap sesuai dengan harapan.

8) Perspektif dan operasional; Sistem pengawasan yang efektif harus dapat mengidentifikasikan tindakan korektif apakah yang perlu diambil. Informasi harus sampai dalam bentuk yang umum di tangan orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengambil tindakan yang diperlukan itu.

9)    Diterima oleh anggota organisasi; Bahwa sistem pengendalian dapat menghasilkan perstasi kerja yang tinggi di kalangan para anggota organisasi dengan membangkitkan perasaan bahwa mereka memiliki oto



DAFTAR PUSTAKA

 

Daft, Richard. 2003. Manajemen, Edisi ke-5. Jilid 1 dan 2. Jakarta: Erlangga

Dimas. 2010. Dasar-dasar Manajemen Actuating. Bandung: STPB

F. Delmar dan S. Shane. Does Business Planning Facilitate the Development of New Ventures. Strategic Management Journal, December 2003, pp. 1165-1185.

Griffin, Ricky W., and Ebert, Ronald J. 2006. Business, 8th edition. New Jersey: Pearson Education Inc.

Griffin. 2005. Fundamental of Management, 4th Ed., Houghton Mifflin Company

Madura, Jeff. 2007. Introduction to Business, 4th edition. USA: South-Western College Publishing,

Mosley, Donald C. dan Paul H. Pietri. 1975. The Art of Working With and Through People.

Hanafi, Mamduh M. 2003. Manajemen. Edisi Revisi. Yogyakarta: UPP AMP YKPN

N. Nuryesrnan M. 1996. Moral dan Etika Dalam Dunia Bisnis, Bank dan Manajemen, Jakarta

Robbins, S. and Coulter, M. 2002. Management, 7th Ed. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Upper Sadle River

 

 

 

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENERAPAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (MSDM) DALAM ORGANISASI BISNIS

PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEWIRAUSAHAAN