PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEWIRAUSAHAAN
PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEWIRAUSAHAAN
Tidak dapat dipungkiri dunia bisnis dalam era global saat ini dihadapkan pada proses perubahan yang begitu cepat dan rumit. Untuk itu, kebutuhan akan perubahan yang dinamis dalam berbagai hal seperti: visi, misi, tujuan, dan sistem berpikir menjadi hal pokok yang harus dimiliki perusahaan. Dalam konteks organisasi belajar, setiap individu organisasi bisnis harus memiliki komitmen dan kapasitas untuk belajar pada setiap tingkat apapun dalam perusahaannya. Dengan kata lain, setiap pekerjaan harus mengandung unsur pembelajaran yang semakin aktif.
Keterampilan membuat keputusan merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manager, terutama bagi kelompok manager atas (top manager). Pengambilan keputusan merupakan fungsi utama dari seorang wirausahawan dalam mengelola bisnisnya. Kegiatan pengambilan keputusan ini sering menjadi kegelisahan tersendiri bagi seorang wirausahawan. Hal ini disebabkan keputusan yang dibuat akan mengikat seluruh komponen dalam perusahaan untuk melaksanakan hasil keputusan tersebut.
Sukses sebagai wirausaha tergantung pada kemampuannya dalam mengambil keputusan. Kemampuan mengambil keputusan secara intuitif merupakan harta bagi seorang wirausaha yang berharga. Kemampuan itu diperoleh dari pengalaman karena wirausaha harus membuat keputusan- keputusan penting selama bertahun-tahun.
A. Pengertian Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi individu maupun organisasi. Mengambil keputusan kadang-kadang mudah, tetapi lebih sering sulit. Kemudahan atau kesulitan dalam mengambil keputusan bergantung pada banyaknya altematif yang tersedia. Makin banyak alternatif, makin sulit dalam mengambil keputusan.
Dalam KBBI (Edisi V: 2017) keputusan adalah perihal yang berkaitan dengan putusan; segala putusan yang telah ditetapkan (sesudah dipertimbangkan, dipikirkan, dan sebagainya).
George R. Terry (1989) pengambilan keputusan adalah pemilihan dua alternatif atau lebih untuk dicari keputusan yang lebih baik. Sondang P. Siagian (1993) menyatakan bahwa ppengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap hakikat suatu masalah dengan pengumpulan fakta-fakta dan data-data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang menurut perhitungan merupakan suatu tindakan yang paling tepat. Sedangkan Azhar Kasim (1993) menyatakan bahwa pengambilan keputusan adalah kegiatan-kegiatan yang meliputi perumusan masalah, penambahan/pembahasan alternatif dan penilaian kegiatan serta pemilihan sebagai penyelesaian masalah.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa membuat keputusan adalah suatu proses memilih alternatif tertentu dari beberapa alternatif yang ada. Atau dengan kata lain, keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif.
Secara garis besar, keputusan digolongkan menjadi dua cara, yaitu keputusan rutin dan keputusan insidential. Keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya berulang-ulang dan terus-menerus ada (rutin), contohnya APBN dan pembayaran gaji. Sedangkan keputusan insidential (tidak rutin) adalah keputusan yang sifatnya sekali-kali, diambil pada saat khusus/tertentu dan tidak bersifat rutin. Contohnya, seorang wirausaha ingin membuka cabang di luar kota.
Dalam mengambil keputusan, baik yang rutin maupun insidential, ada metode yang bisa digunakan wirausahawan, yaitu: (1) metode tradisional adalah pengambilan keputusan yang didasarkan pada intuisi (perasaan) dan kebiasaan; (2) metode modern adalah pengambilan keputusan yang didasarkan pada perhitungan matematis dengan statistik dan penggunaan instrumen modern seperti komputer, dengan pengetahuan bisnis modern.
Tiga alasan yang menjadi dasar mengapa perlu mempelajari pengambilan keputusan, yaitu:
1. Karier pembuat atau pengambil keputusan meningkat.
Seseorang yang telah lama bekerja dalam pekerjaan yang sama cenderung untuk melakukan pekerjaan secara cepat dan benar. Besar kemungkinan ia akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi dalam organisasi tesebut.
2. Efisiensi kerja manajer meningkat.
Seiring berjalannya waktu, manajer akan terus berusaha meningkatkan kemampuan mereka dalam membuat keputusan secara efisien, karena biasanya penentuan keputusan memerlukan banyak waktu dan cukup menyita aktivitas.
3. Produktivitas perusahaan meningkat.
Hasil sebuah keputusan sering kali membuahkan kerja yang semakin baik.
B. Macam-macam Pengambilan Keputusan
Menurut H. A. Simon, keputusan yang dibuat oleh manajer dalam mengambil berbagai keputusan dihadapkan pada dua tipe pada situasi yang berbeda, yaitu:
1. Keputusan yang terprogram.
Keputusan yang terprogram dibuat untuk mengatasi hal-hal bersifat rutin yang terjadi berulang-ulang pada pekerjaan yang sama dan digunakan untuk mengatasi masalah yang mempunyai sebab-akibat secara jelas dalam suatu organisasi
2. Keputusan yang tidak terprogram.
Tidak akan diprogramkan jika sifatnya baru dan tidak berstruktur, unik dan kompleks. Oleh karena itu, tidak ada prosedur tertentu secara pasti yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul, karena masalah tersebut tidak muncul dengan cara yang sama dengan sebelumnya
Mc. Farland, mengklasifikasikan macam-macam keputusan menjadi keputusan dasar dan keputusan rutin.
1. Keputusan Dasar
Keputusan dasar merupakan keputusan unit, investasi dalam jumlah besar, keputusan yang satu kali menyangkut komitmen jangka panjang dan relatif permanen.
2. Keputusan Rutin.
Keputusan rutin merupakan keputusan-keputusan setiap hari, bersifat repetitive (berulang-ulang) dan mempunyai sedikit dampak terhadap organisasi secara keseluruhan.
C. Faktor-faktor Pengambilan Keputusan
1. Faktor Orang; Perlu diperhatikan dan dipertimbangkan orang-orang yang akan merasakan masalah,sebagai akibat dari adanya keputusan,
2. Faktor Psikologis; Perlu memperhatikan dan mempertimbangkan faktor psikologis yang terasa maupun yang tidak terasa seperti emosional, pikiran, perasaan, kekecewaan, maupun kejiwaan lainnya,
3. Faktor Fisik; Perlu ditransfer ke arah tindakan fisik,
4. Faktor Sasaran; Harus memperhatikan dan mendorong arah usaha atau bisnis dalam rangka pencapaian sasaran yang sudah ditetapkan oleh seorang wirausahawan,
5. Faktor Waktu; Waktu efektif dan efisien harus cukup menganalisis data-data dan permasalahan,
6. Faktor Pelaksanaan; Merupakan tindaklanjut (follow-up) dari setiap keputusan yang diambil.
D. Tujuan Pengambilan Keputusan
Adapun tujuan dari pengambilan keputusan menurut Rusdiana (2016: 204) adalah sebagai berikut:
1. Tujuan bersifat tunggal; yaitu terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah. Artinya, sekali diputuskan tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain.
2. Tujuan yang bersifat ganda; yaitu terjadi apabila keputusan yang diambil sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih yang berrsifat kontradiktif atau yang tidak kontradiktif.
E. Fungsi Pengambilan Keputusan
Adapun fungsi dari pengambilan keputusan yaitu:
1. Pangkal permulaan dari segala aktifitas manusia yang dasar dan terarah secara individu atau kelompok,
2. Sesuatu yang bersifat futuristik yaitu berkaitan dengan hari depan, masa yang akan datang dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.
F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
1. Faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang berasal dari luar (eksternal)
a. Kedudukan
Jabatan atau kedudukan seseorang dapat dilihat berdasarkan pangkaatnya apakah sebagai pimpinan atau bawahan, sehingga dapat ditentukan pantas atau tidaknya mengambil suatu keputusan. Karena jika pimpinan yang mengambil, tentu ia telah berpengalaman dalam mengambil suatu keputusan. Jika sebaliknya seperti bawahan, tentu mereka belum berpengalaman dan belum lihai dalam mengambil suatu keputusan sehingga jabatan atau kedudukan ini sangat berperan penting dalam mengambil suatu keputusan.
b. Masalah
Adalah hal yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan yang merupakan penyimpangan dari hal-hal yang diharapkan atau direncanaka.
c. Situasi
Adalah keseluruhan faktor dalam keadaan yang berkaitan satu sama lain dan secara bersama sama, memencarkan pengaruh terhadap kita dan apa yang akan hendak kita perbuat.
d. Pengaruh dari kelompok lain
Kelompok lain juga dapat berpengaruh terhadap suatu keputusan, dikarenakan kelompok lain atau organisasi mempunyai keputusan yang dapat dipertimbangkan oleh pemimpin organisasi lain. Dalam menyikapi masalah dan pengaruh kelompok lain, ini juga dapat menjatuhkan organisasi serta mementingkan kelompok tersebut.
Gaya manajer dalam mengambil suatu keputusan juga sangat berpengaruh dalam mengambil suatu keputusan. Karena gaya manajer ini akan banyak dilatarbelakangi oleh latar belakang pengetahuan, perilaku, pengalaman dan sejenisnya. Para pemimpin biasanya memiliki gaya dalam mengambil suatu keputusannya, yaitu dengan cara (1) menghindari masalah dan mengabaikan informasi yang menunjuk sebuah masalah; (2) penyelesaian masalah; dan (3) pencari masalah. Jadi dapat dikatakan, gaya dari pemimpin juga sangat mempengaruhi dalam pengambilan suatu keputusan, karena dapat dilihat sendri bahwasannya gaya yang ia miliki masing masing beragam dalam mengambil suatu keputusan.
2. 2. Faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang berasal dari dalam (internal)
Faktor internal yang mempengaruhi pengambilan keputusan meliputi:
a. Kepribadian
Tingkah laku atau karakter seseorang dalam pengambilan suatu keputusan, juga sangat mempengaruhi. Di mana sifat manusia ini beragam, ada yang tergesa-gesa dan ada yang berhati-hati dalam menetapkan suatu pilihan sehingga kepribadian ini juga sangat berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan. Dalam hal ini, yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan dan ketegasan seseorang dalam mengambil suatu keputusan.
b. Faktor pengalaman
Semakin banyaknya seseorang tersebut mengambil keputusan maka ia akan berani dalam mengambil keputusan. Hal ini juga berkaitan dengan keahlian yang dimiliki oleh pemimpin atau skill yang ia miliki karena pengalaman yang pernah dialaminya
G. Beberapa Cara Mengambil Keputusan dalam Berwirausaha
1. Singkirkan Rasa Takut Salah
Ketakutan untuk berbuat salah adalah hal manusiawi. Anda pasti ingin menghindari risiko negatif dari keputusan yang diambil. Namun, Anda tidak mungkin selalu benar. Anda bisa saja salah dalam membuat keputusan.
Akan tetapi, Anda bisa belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dan mengasah kemampuan Anda dalam membuat keputusan berikutnya. Setiap proses pengambilan keputusan pasti akan mendewasakan karakter dan cara berpikir Anda.
Oleh sebab itu, beranilah dalam membuat keputusan. Jangan melemparkan tanggung jawab ini pada orang lain atau tidak memutuskan sama sekali.
2. Identifikasi Masalah yang Terjadi
Anda tidak dapat membuat keputusan yang tepat jika Anda salah mengidentifikasi masalah. Anda harus teliti dan mengerti hingga detail setiap permasalahan yang terjadi dalam bisnis Anda.
Keputusan yang diambil harus relevan dan tidak asal-asalan. Dengan begitu, Anda dapat mencari solusi yang tepat sasaran untuk memecahkan masalah tersebut.
3. Gunakan Informasi dan Data Saat Memutuskan
Jangan hanya mengandalkan intuisi. Supaya keputusan Anda tepat, Anda perlu mengumpulkan informasi dan data yang lengkap terkait persoalan yang ingin diputuskan.
Informasi dan data akan sangat membantu Anda dalam melakukan pertimbangan yang rasional dan sesuai dengan realita yang terjadi. Sehingga Anda pun bisa berpikir kritis untuk membuat keputusan terbaik.
4. Diskusikan Masalah dengan Orang yang Tepat
Terkadang, cara mengambil keputusan yang tepat harus dilakukan bersama orang lain. Tidak semua keputusan harus Anda ambil sendiri. Ajaklah orang-orang kepercayaan untuk diskusi dalam rapat. Anda bisa meminta pendapat dari rekan bisnis, para manager, ataupun karyawan terbaik Anda.
Bersama dengan mereka, Anda akan mendapatkan ide-ide yang tidak terpikirkan oleh Anda. Ini akan sangat memudahkan Anda dalam membuat keputusan yang cepat dan juga tepat.
5. Tetapkan Tenggat Waktu Pengambilan Keputusan
Semakin berat masalahnya, semakin sulit proses pengambilan keputusan. Anda pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mempertimbangkannya baik-baik.
Namun, jangan sampai Anda terlalu lama dalam bersikap. Anda bisa saja kehilangan kesempatan yang baik jika Anda telat mengambil suatu keputusan. Untuk itu, buatlah tenggat waktu atau batas waktu terakhir Anda dalam menentukan keputusan. Sehingga Anda tidak menunda-nunda dan membuang waktu dengan sia-sia.
6. Hadapi Apapun Risiko yang Terjadi
Setelah Anda membuat keputusan, Anda harus mengawasi pelaksanaannya. Itu adalah tanggung jawab seorang pemimpin supaya hasilnya bisa sesuai dengan harapan.
Namun, jika Anda menerima risiko akibat keputusan Anda, hadapilah dengan sikap yang bijaksana. Sebab pasti selalu ada pembelajaran berarti dari setiap keputusan dan hasil yang terjadi.
H. Jenis-jenis Pengambilan Keputusan
Berikut ini beberapa macam pengambilan keputusan dalam berorganisasi berdasarkan
jenisnya, diantaranya:
1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi.
Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat Untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan mencari pembandingnya dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan keputusan intuitif hanya diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-hal yang lain sering diabaikan.
2. Pengambilan Keputusan Rasional
Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah-masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu.
3. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta
Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai. Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan. Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data, atau informasi yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid, namun untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.
4. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman
Sering kali terjadi bahwa sebelum mengambil keputusan, pimpinan mengingat-ingat apakah kasus seperti ini sebelumnya pernah terjadi. Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip pengambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa lampau. Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya, maka pimpinan tinggal melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan situasi dan kondisi saat ini. Jika masih sama kemudian dapat menerapkan cara yang sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul. Dalam hal tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis.
5. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang
Banyak sekali keputusan yang diambil karena wewenang (authority) yang dimiliki. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien. Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata akan menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictatorial. Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering melewati permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang jelas.
I. Proses Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan didefinisikan sebagai langkah yang diambil oleh pembuat keputusan untuk memilih alternatif yang tersedia. Adapun langkah sistematis yang harus dilakukan dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi atau mengenali masalah yang dihadapi
2. Mencari alternatif perusahaan bagi masalah yang dihadapi
3. Memilih alternatif yang paling efisien dan efektif untuk memecahkan masalah
4. Melaksanakan alternatif tersebut
5. Mengevaluasi apakah alternatif yang dilaksanakan berhasil dan sesuai dengan yang diharapkan.
Langkah proses pengambilan keputusan yaitu: (1) identifikasi masalah; (2) mencari alternatif pemecahan; (3) pelaksanaan alternative; dan (4) evaluasi.
Berikut ini merupakan penjabaran proses pengambilan keputusan.
1. Pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan pada dasarnya adalah proses pemecahan masalah yang menghalangi atau menghambat tercapainya tujuan. Agar masalah dapat dipecahkan, terlebih dahulu harus dikenali apa masalahnya.
2. Mencari alternatif pemecahan
Setelah masalh dikenali maka dapat dilakukan pencarian terhadap alternatif-alrternatif yang mungkin dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam mencari alternative hendaknya tidak mamikirkan masalah efisiensi dan efektifitas. Yang terpenting adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya alternatif. Setelah alternatif terkumpul, barulah disusun berurutan dari yang paling diinginkan sampai yang tidak diinginkan.
3. Memilih alternatif
Setelah alternatif tersusun, barulah dapat dilakukan pilihan alternatif yang dapat memberikan manfaat, dalam arti dapat memecahkan masalah dengan cara yang paling efektif dan efisien. Sebelum menjatuhkan pilihan pada sebuah alternatif, ajukan pertanyaan untuk tiap-tiap alternatif.
4. Pelaksanaan alternatif
Setelah alternatif dipilih, tibalah saatnya melaksanakannya ke dalam bentuk tindakan. pelaksanaan harus sesuai denga rencana, agar tujuan memecahkan masalh dapat tercapai.
5. Evaluasi
Setelah alternatif dilaksanakan, bukan berarti proses pengambilan keputusan telah selesai. Pelaksanaan alternatif harus terus diamati, apakah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bila langkah-langkah pelaksanaan telah dilakukan dengan benar tetapi hasil yang dicapai tidak maksimal, sudah waktunya untuk mempertimbangkan kembali pemilihan alternatif lainnya. Tidak maksimalnya hasil yang dicapai mungkin terjadi karena pengaruh negatif potensial benar-benar terjadi, atau mungkin pengaruh negatif yang tadinya tidak diperkirakan.
J. Kepribadian dan Kecakapan Pengambil Keputusan
Erich Form membedakan 5 tipe pengambil keputusan dikaitkan dengan macam keputusannya:
1. 1. Tipe Ketergantungan
Tidak mempunyai pendirian yang tegas. Ketidak-tegasan bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor antara lain ia kurang menguasai permasalahan dan tidak mempunyai pengalaman dalam memutuskan suatu persoalan
2. 2. Tipe Eksploitatif
Mengeksploitasi orang lain atau bawahan untuk kepentingan diri sendiri.
3. 3. Tipe Tabungan
Mempunyai kecenderungan mengumpulkan ide-ide untuk kepentingan diri sendiri guna memperkuat posisinya dan wibawanya dalam organisasi.
4. 4. Tipe Pemasaran
Sengaja ingin menjual idenya pada pihak lain atau sengaja ingin memamerkan ide-ide kepada bawahannya agar ia dipuji pihak lain atau sekadar ingin memperlihatkan wibawanya sebagai pemimpin.
5. 5. Tipe Produktif
Benar-benar memiliki kemampuan dalam pengetahuan, keterampilan, dan pandangan jauh ke depan.
Setiap keputusan yang dihasilkan oleh perusahaan/organisasi memiliki sifat dan arah yang berbeda, bergantung dari kemampuan mengelola usaha tersebut. Sifat dan sumber arahan keputusan yang dihasilkan oleh wirausaha dalam menjalankan usahanya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut:
1) Keputusan yang bersifat Bottom Up
Artinya keputusan yang bersumber dari bawah menuju ke atas. Misalnya, seorang karyawan dapat memberikan gagasan untuk kemajuan usaha terhadap manajemen. Kelebihannya, setiap karyawan dimotivasi untuk memiliki gagasan bagi kemajuan usahanya. Perasaan memiliki perusahaan semakin bertambah karena dilibatkan dalam pengambilan keputusan, dengan demikian, perusahaan memiliki sumber ide yang sangat banyak. Kekurangannya, teralu banyak gagasan dapat memunculkan konflik karena setiap orang ingin gagasannya diterima, semakin banyak alternatif, semakin sulit dalam menentukan keputusan yang baik.
2) Keputusan yang bersifat Top Down
Artinya keputusan yang bersumber dari manajemen tingkat atas ke bawahan. Kelebihannya, perintah terjamin dari satu sumber, keputusan lebih terarah dan fokus karena bersumber dari satu arah. Kelemahannya, pemimpin bisa menjadi diktator karena setiap orang terbatas dalam mengeluarkan gagasannya.
DAFTAR PUSTAKA
Alimudin, A., & Falani, A. Z. 2017. Strategic Decision Making Based on Information Systems for Improving the Competitiveness of Small and Medium Enterprises in the Trade Sector of Tourism and Commerce City. E-Jurnal.
Kasim, Azhar. 1993. Pengukuran Efektivitas Organisasi. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Rusdiana 2016. Pengembangan Organisasi Lembaga Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
R.Terry, George dan Leslie W. Rue. 2010. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.
Siagian, S.P. 2002. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta: PT Rineka Cipta
Suharyadi, Arissetyanto Nugroho, Purwanto dan Maman Faturohman. 2007. Kewirausahaan, Membentuk Usaha Sukses Sejak Usia Muda. Jakarta: Penerbeit Salemba Empat-UMB.
Suryana. 2001. Kewirausahaan. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Syamsi, Ibnu. 2000. Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi. Jakarta: Bumi Aksara.







Komentar
Posting Komentar